HUKUM BARANG dr KULIT BABI dan CIRI CIRINYA

Beberapa orang diantara kita mendapat e-mail dari teman lain, yang menginformasikan bahwa beberapa sepatu dan sandal dengan merk terkenal seperti Clarks, Hush Puppies, Kickers, Puma, Next, BeeBug [ anak-anak ] dan Anyo [ anak-anak ] terbuat dari kulit “babi”.Informasi ini didapat dari anggota milis yang sedang berada di UK (United Kingdom, Inggris). Informasi mengenai sepatu dan sandal terbuat dari kulit “babi” didengar seseorang langsung dari produsen (Clarks dan Hush Puppies). Kebetulan dia dan keluarga juga pernah punya sepatu merek Clarks dan ketika ditanyakan via e-mail ke produsen dan juga teman orang tsb di UK bertanya via telefon, dijawab bahwa beberapa produk mereka memang benar terbuat dari kulit “babi”.Sekarang yang ingin ditanyakan adalah, apakah memakai sepatu atau sandal terbuat dari kulit “babi” tersebut diharamkan oleh Islam, karena ada pertanyaan menggelitik dari banyak orang bahwa yang diharamkan adalah memakan daging “babi”, sedangkan memakai kulit atau lainnya tidak jelas.

HUKUM ISLAM TENTANG SEPATU SANDAL TERBUAT DARI KULIT BABI

Beberapa orang diantara kita mendapat e-mail dari teman lain, yang menginformasikan bahwa beberapa sepatu dan sandal dengan merk terkenal seperti Clarks, Hush Puppies, Kickers, Puma, Next, BeeBug [ anak-anak ] dan Anyo [ anak-anak ] terbuat dari kulit “babi”.Informasi ini didapat dari anggota milis yang sedang berada di UK (United Kingdom, Inggris). Informasi mengenai sepatu dan sandal terbuat dari kulit “babi” didengar seseorang langsung dari produsen (Clarks dan Hush Puppies). Kebetulan dia dan keluarga juga pernah punya sepatu merek Clarks dan ketika ditanyakan via e-mail ke produsen dan juga teman orang tsb di UK bertanya via telefon, dijawab bahwa beberapa produk mereka memang benar terbuat dari kulit “babi”.Sekarang yang ingin ditanyakan adalah, apakah memakai sepatu atau sandal terbuat dari kulit “babi” tersebut diharamkan oleh Islam, karena ada pertanyaan menggelitik dari banyak orang bahwa yang diharamkan adalah memakan daging “babi”, sedangkan memakai kulit atau lainnya tidak jelas.

HUKUM ISLAM TENTANG SEPATU SANDAL TERBUAT DARI KULIT BABI [2]

DALIL-DALIL

DALIL NAQLI BERDASARKAN PADA AYAT AL QUR`AN DAN AL HADITS

Dalam Al Qur`an yang diharamkan secara tegas bagi muslim adalah “lahma kinzir” atau “daging” “babi”, dalam konteks makanan. Dan kedudukan keharamannya adalah pada peringkat ketiga setelah ‘mayat’ atau bangkai dan “dam” atau darah cair segar [ Q 2:173, 5:3, 6:145. 16:115 ].

Al Hadits menyebutkan bahwa:
Bangkai serangga bersih dari darah cair, spt semut, lebah, adalah halal, kecuali nyamuk pengisap darah.

Hati dan limpa adalah halal, kareha bukan darah cair.

Bangkai, darah cair segar, dan daging adalah halal sementara untuk dimakanminum dalam keadaan darurat atau terpaksa, asalkan dimakanminum tak berlebihan. Hal makanminumj darurat atau terpaksa dan tak berlebihan ini sesuai dengan ayat Al Qur`an [ Q 2:173. 6:145, 16:115 ].

Ayat-ayat Al Qur`an samasekali tak ada menyebutkan atau pun menyinggung sedikit pun tentang kulit “babi”.

Al Hadits menyebutkan bahwa, rasulullah saw telah-berkata: ”Jika suatu kulit-binatang sudah disamak, maka dia telah suci.” [ HR Muslim dari Ibnu Abas ]

Hadits ini shahih, dan tak disebutkan bahwa ada pengecualian untuk kulit “babi”.

. . .

sumber: Al Qur`an dan Al Hadits [Shahih Bukhariy dan Musliym ]

HUKUM ISLAM TENTANG SEPATU SANDAL TERBUAT DARI KULIT BABI [3]

DALIL-DALIL

DALIL ‘AQLI BERDASARKAN PADA AL HADITS DAN INTERPRETASI ULAMA

Berbagai ulama berbeda pendapat dalam masalah penyamakan terhadap kulit dari binatang yang sudah mati. Terdapat tujuh pendapat dalam hal ini, yaitu :

Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa setiap kulit dari binatang yang sudah mati dapat disucikan dengan penyamakan kecuali kulit “anjing”, “babi”, atau binatang yang terlahir dari salah satu dari keduanya. Mereka meriwayatkan pula dari Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Masud ra.

Salah satu riwayat yang masyhur dari Ahmad dan juga dari Malik bahwa penyamakan tidaklah dapat mensucikan samasekali kulit dari binatang yang telah mati. Ini juga riwayat dari Umar bin Khottob, anaknya dan Aisyah ra, istri Muhammad saw.

Auza’i, Ibnul Mubarok, Abu Tsaur, Ishaq bin Rohuyah berpendapat bahwa penyamakan dapat mensucikan setiap kulit dari binatang yang dapat dimakan saja tidak dari yang lainnya.

Madzhab Abu Hanifah berpendapat bahwa penyamakan dapat mensucikan seluruh kulit kecuali kulit “babi”.

Pendapat yang masyhur juga dari Malik bahwa penyamakan dapat mensucikan seluruh kulit, namun pensuciannya hanyalah pada bagian luarnya saja bukan dalamnya maka ia hanya digunakan untuk sesuatu yang padat bukan cair, sholat diatasnya bukan didalamnya.

Daud, Ahli Zhohir, diceritakan juga dari Abu Yusuf bahwa penyamakan dapat mensucikan seluruh kulit termasuk “anjing” dan “babi” baik bagian luar maupun dalamnya.

Zuhri berpendapat bahwa kulit dari binatang yang sudah mati dapat dimanfaatkan walaupun tidak disamak dan diperbolehkan menggunakannya dalam keadaan kering maupun basah, ini adalah pendapat yang aneh.

[ Shohih Muslim bi Syarhin Nawawi juz IV hal 72 – 73 ]
Perbedaan yang terjadi dikalangan para ulama tersebut didalam masalah ini adalah adanya pertentangan diantara dalil-dalil yang berbicara tentang hal ini, yaitu :
Telah bercerita Ma’mar dari Zuhri, Maimunah berkata, Rasulullah saw bersabda, ”Tidakkah engkau manfaatkan kulitnya?” [ HR. Abu Daud ]

Hadits yang diriwayatkan dari ‘Akim berkata, ”Telah dibacakan dihadapan kami surat dari rasulullah saw di daerah Juhainah, dan saya saat itu adalah seorang remaja, isinya; ‘Janganlah kalian memanfaatkan kulit maupun urat dari binatang yang telah mati.” [ HR. Abu Daud ]

Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata,”Saya telah mendengar rasulullah saw bersabda, ”Apabila sebuah kulit sudah disamak maka ia telah suci.” [ HR. Muslim ]
Beberapa tanggapan terhadap dalil-dalil tersebut :

Terhadap hadits yang diriwayatkan dari Maimunah tersebut, Imam Nawawi mengatakan bahwa Zuhri hanya meriwayatkan, ”Tidakkah engkau memanfaatkan kulitnya.” Beliau tidak menyebutkan penyamakannya dan dijawab olehnya bahwa hadits ini bersifat mutlak, padahal ada riwayat-riwayat lainnya yang menyebutkan tentang penyamakannya, yaitu bahwa penyamakan kulit tersebut dapat mensucikannya.

Sedangkan terhadap hadits ‘Akim telah terjadi perbedaan pendapat para ulama dalam penggunaan hadits tersebut sebagai dalil. Sebagian ulama lebih mendahulukan hadits penyamakan terhadap hadits ‘Akim, dikarenakan hadits tentang penyamakan ini shohih artinya terhindar dari kekacauan. Mereka mengecam hadits ‘Akim karena dianggap terjadi kekacauan dalam sanadnya. Sedangkan sebagian yang lain lebih mendahulukan hadits ‘Akim, dikarenakan para perawinya yang dapat dipercaya. Mereka mengatakan bahwa kekacauan dalam sanadnya tidaklah menghalanginya untuk dipakai sebagai dalil…

Sebagian ulama mengamalkan seluruh hadits dan mengatakan bahwa tidak ada pertentangan diantara hadits-hadits tersebut. Hadits ‘Akim menyebutkan adanya pelarangan terhadap memanfaatkan kulit dari binatang yang sudah mati.Adapun al ihaab disitu maksudnya kulit yang belum disamak, sebagaimana pendapat An Nadhor bin Syumail. Al Jauhari mengatakan bahwa al ihaab adalah kulit yang belum disamak, bentuk pluralnya adalah uhub. Sedangkan hadits-hadits tentang penyamakannya menunjukkan dalil untuk memanfaatkannya setelah disamak, maka tidak ada pertentangan didalamnya. [ Aunul Ma’bud juz XI hal 135 ]

Adapun hadits yang ketiga tidak disangsikan lagi akan keshahihannya.

Namun ada pendapat lain yang menentang hadist ini, bahwa meskipun ada sabda rasulullah saw,”Apabila sebuah kulit sudah disamak maka ia telah suci.” [ HR. Muslim ] diatas namun ia tidak bisa digunakan secara mutlak untuk seluruh jenis kulit dari binatang yang telah mati. Penyamakan tetap tidak bisa mensucikan kulit “anjing” dan “babi” dikarenakan najisnya kedua binatang itu mencakup keseluruhan yang ada pada tubuhnya, termasuk kulit dan bulunya, sebagaimana pendapat jumhur ulama. “Yang benar adalah bahwa kulit “babi” tidaklah dapat disucikan dengan disamak karena najisnya bukanlah pada darahnya atau pada saat dia basah akan tetapi pada dzatnya.” [ Bada’iush Shona’I juz I hal 370 ].
oleh: Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Untuk gambar dan ciri ada di sini

3 Tanggapan to “HUKUM BARANG dr KULIT BABI dan CIRI CIRINYA”

  1. dildaar80 Says:

    Jazakumullah informasinya ya. salam kenal.

  2. GAMBAR DAN CIRI KULIT DARI BABI | BAHAYA PRODUK HARAM « Pengusaha Baik Hati Says:

    [...] pada gambar 3, tetap kentara kok itu titik2nya. 4. Selain itu kulit babi lunak untuk hukumnya lihat di sini Ditulis dalam islam, wanita. Tag: 3gp, ABG, alat, Artikel kesehatan, ASI, asteroklerosis, bahasa [...]

  3. cute dog Says:

    When I originally commented I clicked the “Notify me when new comments are added” checkbox and
    now each time a comment is added I get three e-mails with the same comment.
    Is there any way you can remove people from that service?
    Bless you!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.